TANPA
mengurangi respek pada peraih medali lainnya,
nama duet ganda putri
Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari bakal
paling diingat, jika bicara soal prestasi kontingen Indonesia di
Asian
Games XVII tahun ini.
Pasalnya, yang namanya raihan medali emas pertama selalu akan jadi momen
mengesankan. Selain sukses jadi “pemecah telur” perolehan emas,
prestasi
Greysia/Nitya ini tak ayal jadi pelecut dan tambahan motivasi
berarti buat para atlet lainnya, guna mendulang prestasi serupa.
Target emas di cabang bulutangkis pun sudah tercapai dengan dua emas di
mana pasangan ganda putra,
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan juga turut
menambah pundi-pundi emas Indonesia.
Satu hal spesial lain dari prestasi
Greysia/Nitya ini, keduanya juga
mengentaskan dahaga medali emas Asian Games di nomor ganda putri,
setelah sempat tertahan selama 36 tahun.
Air mata bahagia pun mengalir deras lantaran
Nitya tak mampu menahan haru, sementara
Greysia mengaku
speechless,
saat mengingat kembali ketika mereka menutup kemenangan dua set
langsung, 21-15 dan 21-9 di partai final kontra duet Jepang,
Ayaka
Takahashi/Misaki Matsumoto.
“Saya saat itu senang sekali, saya hanya menangis bahagia dan bilang
‘Oh My God’, saya tak bisa berkata-kata. Sementara pelatih bilang
‘We did it!’ berulang-ulang kali,” ungkap Greysia, seperti dikutip situs resmi PBSI.
“Saya juga tak dapat menahan air mata haru, saat itu saya langsung
mengucapkan terima kasih kepada pelatih yang telah membawa kami jadi
juara,” timpal
Nitya.
Sebelum melakoni final,
Greysia mengaku sempat gelisah dan tak bisa
tidur lelap, walau begitu, nafsu makan dara berusia 27 tahun itu tetap
tak berkurang.
“Saya sempat tidak bisa tidur malam harinya, tidak tahu kenapa. Kalau
makan sih terasa enak saja, karena banyak pilihan makanan di athlete
dining hall, hahahaha...,”
Greysia berkelakar.
Kembali bicara prestasi, sedianya sejumlah nomor di kategori putri
termasuk ganda, sempat tak dibebani target muluk-muluk di beragam ajang,
lantaran memang prestasi srikandi-srikandi raket Indonesia sempat
jeblok.
Belakangan, hanya nomor-nomor putra yang paling diharapkan. Setidaknya,
prestasi
Greysia/Nitya bisa kembali jadi tolok ukur kebangkitan
putri-putri Indonesia. Akan tetapi untuk bisa mencapai prestasi,
tentunya persiapan matang secara menyeluruh tentu diperlukan.
Khusus untuk
Greysia/Nitya, sebelum berangkat ke Incheon, keduanya
digembleng dengan latihan yang berbeda. Selain persiapan yang berat,
pelatih mereka, Eng Hian juga punya pendekatan psikis, terutama soal
kepercayaan diri.
“Program latihan sempat diubah sebelum ke Asian Games. Latihan di hari
Sabtu tiba-tiba dibuat jadi berat sekali oleh Koh Didi (panggilan Eng
Hian). Dari Senin, Selasa, Kamis, makin lama makin berat. Kami juga
awalnya bingung, biasanya Sabtu jelang weekend kan nggak terlalu berat.
Ternyata saat bertanding baru terasa manfaatnya,” tambah Greysia lagi.
“Koh Didi selalu meyakinkan saya setiap sebelum masuk lapangan mau
bertanding. Dia bilang kalau lawan itu sejajar sama saya, saya juga bisa
mengalahkan dia,” sambung Nitya yang merasa kepercayaan dirinya kian
tumbuh di bawah besutan Eng Hian.
Hasilnya, semua itu terbayarkan. Campur aduk yang dirasakan keduanya
tatkala melihat bendera Merah Putih berkibar paling tinggi, diiringi
lagu ‘Indonesia Raya’ untuk pertama kalinya di pesta olahraga se-Asia
tahun ini.
“Rasa capek, lelah, tangis, latihan berat, semua pengorbanan terbayar
sudah. Tapi seperti kata pelatih, kami tak boleh puas karena ini baru
awal, masih banyak tugas kami selanjutnya,” tuntas
Greysia. (raw)